Diposkan pada Tanpa kategori

Belajarlah, Nak! Sampai engkau merasa bodoh!

image

Dear Arishocta dan Mikaela,

Mama tulis pesan ini untuk dua anak kesayangan mama dan ayah. Anak mama yang sungguh menyejukkan dan membahagiakan.

Anak mama sayang,
Mama sungguh merasa bahagia akan kehadiran kalian, sehingga rasanya, mama tak mampu lagi meminta lebih. Mama tak minta muluk-muluk untuk Tata dan Mika. Mama hanya ingin, Tata dan Mika tak pernah berhenti belajar.

Anak Mama tak harus sekolah tinggi dan meraih gelar untuk sekedar belajar. Tidak, nak! Kau tak perlu melakukan itu jika kau tak mau.

Belajarlah pada hujan, pada semut, pada udara, pada setiap helaan nafas dan jantungmu. Belajarlah dari alam, nak! Belajarlah langsung dari tanda-tanda kehadiran Tuhan. Bahkan jika kau jeli, kau akan melihat kehadiranNya pada kerikil dipinggir jalan.

Anakku sayang, Teruslah belajar! Temukan Tuhan, dan jadikan Ia sebagai penerang jalanmu. Menjadi sebaik-baiknya tujuanmu. Yang akan kau rasakan hadirnya dalam tangis dan tawamu.

Belajarlah, nak! Belajarlah hingga engkau merasa Bodoh. Belajarlah hingga kau keluar dari tempurungmu yang sempit dan menyesakkan. Lihatlah dunia yang luas. Lihatlah begitu besar dunia dan betapa kecilnya dirimu.

Belajarlah sampai kau berada disatu titik, dimana kau merasa sungguh tak tau apa-apa. Dimana kau merasa takjub dan merasa kerdil. Karena diatas langit, masih ada langit, nak.

Mama tidak mengharapkan apa-apa dari ilmu yang engkau punya. Tak harus engkau jadi insinyur, dokter, guru atau apapun. Tak harus kau punya kekuasaan atau harta yang melimpah ruah.

Satu hal yang mama harapkan, nak.

Kebijaksanaan.

Teruslah belajar hingga kau tidak punya waktu untuk merendahkan orang.

Teruslah merasa bodoh, hingga kau tidak akan selalu merasa pintar dan mengakali orang-orang. Agar kau tidak memakai jubah kesombongan.

Teruslah merasa bodoh, bahkan jika ada orang yang membodoh-bodohimu. Tersenyumlah! Tuhan mengirimnya bukan tanpa alasan. Kau tidak akan rendah, nak! Jangan takut kau akan direndahkan karena selalu merasa perlu belajar. Tidak, Nak. Orang boleh salah menilaimu, tapi Tuhan tidak akan pernah salah. Kau harus punya penilaian yang adil atas dirimu sendiri.

Gunakan ilmu mu, nak! Yang masih sedikit itu, untuk menebar kebaikan. Untuk dapat menjadi manfaat untuk dirimu, keluargamu, dan orang-orang disekelilingmu.

Janganlah pernah merasa ‘paling’. Paling benar, paling pintar ataupun paling berkuasa. Tak akan dapat apa-apa engkau, nak. Percaya kepada mama, Tidak ada orang yang menjadi tinggi dengan cara merendahkan orang lain.

Untuk itu, nak! Selalu lah menginjak bumi, tapi dengan kebijaksanaan yang menyentuh langit. Sesungguhnya kau bisa melihat kuasa Tuhan dimanapun kau berada. Kau pun selalu bisa belajar dimana saja.

Teruslah belajar! Teruslah merasa Bodoh!

Dengan penuh kasih sayang,

mama

Iklan
Diposkan pada Tanpa kategori

Ketika Diam Pun Salah

Saya sedikit ngeri dengan berbagai pemberitaan yang hilir-mudik di beranda saya akhir-akhir ini. Saling hujat, saling tuduh, saling menyebar kebencian.

image

Saya tidak tahu jika efek Ahok akan sebesar ini. Siapa sih Ahok hingga bisa membuat kita terpecah belah seperti ini? Hadeuuuh… saya tidak habis pikir, apalagi jika sebagian orang menuduh yang lain dan bisa mengukur kadar keimanan hanya dari satu perspektif. Oh God… Its so damn cheesy!

Jangankan yang bersuara ya… yang diam pun kena! Kata-nya gak seakidah, katanya gak sekufu, katanya abu-abu, gak jelas memihak siapa! Duileeh boss… nyante napa sih!

Silahkan carmuk dengan Tuhan, jika boleh saya bilang begitu. Tapi saya rasa, Tuhan juga tidak suka jika ia ditinggikan dengan cara merendahkan orang lain. Anda boleh mengejar surga, tapi saya lebih memilih mengejar ridho-Nya.

Lalu siapa anda-anda ini kok bisa jadi nabi-nabi baru yang seolah jadi perpanjangan tangan Tuhan yang bisa memutuskan kadar keimanan seseorang?

Tiap orang punya caranya sendiri, bung! Tidak suka dengan AHOK silahkan! Merasa dinistakan? Silahkan!! Tapi itu tidak memberi anda-anda hak untuk bisa merendahkan dan memberi label kepada orang yang punya pemikiran berbeda! Memang anda siapa? Asisten Tuhan?

Anda bilang merasa tersakiti karena banyak yang seagama tapi memilih diam? Lalu anda balas menyakiti yang diam dengan menuduh ini itu karena tidak bertindak seperti yang anda lakukan.

Indonesia ini besar. Ada mayoritas dan minoritas. Mari kita jaga semuanya. Lakukan semua pada porsinya. Merasa disakiti oleh satu orang, tidak menjadikan anda punya kekuasaan untuk menghujat yang lainnya. Sudahlah bung, semua yang berkeyakinan, pasti meyakini yang dipegangnya adalah benar. Sama juga dengan anda. Memaksakan kehendak dan berkoar-koar tentang betapa hebatnya keyakinan dan perilaku anda, tidak membuat orang lantas kagum dan percaya.

Kita ini Bineka Tunggal Ika. Rasakan Agamamu dan kehadiran Tuhanmu dalah setiap sendi kehidupanmu yang melahirkan sikap santun dan welas asih. Yang sabar dan penyayang. Yang mendamaikan.

Kenapa saya begitu kawatir seperti ini? Karena sekarang, orang tak malu lagi menyebar kebencian lewat sosial media. Tak malu, karena Tuhan jadi alasannya. Tak malu, karena merasa Tuhan jadi pembelanya. Menurutmu, Tuhan akan senang?
Akan bangga? Wah, hebat sekali umatku! Calon penghuni surga! Membelaku sampai titik darah penghabisan. Yah, begitulah… Begitu lah cara berfikir teroris. Menjadikan Tuhan alasan untuk berbuat kedzoliman. (Ups, selepas ini saya akan dituntut karena menistakan Tuhan).

Kita sedih dan mengutuk orang yang menindas saudara kita yang minoritas di berbagai negara, tapi saat kita mayoritas, kita melakukan hal yang sama. Oh lucunya dunia…

Sudahlah bung, mari kita sama-sama berpikir lebih jernih. Apapun yang dilakukan Ahok, tidak boleh membuat kita terpecah belah. Boleh sakit-hati karena merasa dilecehkan, boleh demo. Tapi tolong jangan lagi menebar banyak kebencian. Efeknya akan jauh lebih besar dari pada kasus awalnya. Jauh-jauh lebih besar.

Ingat bung, sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat buat manusia lain. Masalah keimanannya? Sudahlah, jangan suka ikut campur urusan dapur orang. Fokus saja jadi manusia berguna.

Sekali lagi, mari kita berhati-hati dalam bersosial media. Banyak berita dengan mudah kita bagikan! Pilihlah! Pilahlah! Mana yang menurutmu Tuhanmu suka, mana yang menurutmu Tuhanmu tidak suka. Atau jika kamu bimbang dan ragu, pikirkan perasaan yang membacanya. Dan bayangkan juga dampaknya.

Sesungguhnya dari situlah kebijaksanaan tiba.

Wallahu’alam

image

Diposkan pada Tanpa kategori

Untuk Yang Bingung Hendak Berkomentar Apa, Mengenai #Aksi4November

image

Ada gak sih pembaca (ceile.. belagak banyak yg baca) disini yang bingung mau komen apa mengenai aksi 4 november kemarin? Bingung, cyin!! Sosial media seakan dibagi menjadi 2 kubu. Yang satu menuduh radikal karena mudah terprovokasi, yang satu menuduh kafir karena adem anyem agamanya dinodai.

Lah terus aku kudu piye?? 

Okey, ini murni pendapat ibu rumah tangga yang ga ngerti politik dan masih bau kencur mengenai agama. Kalo ditanya berada dipihak mana saya ini, saya gak memihak manapun, broh sist. Saya memihak diri saya sendiri. Bwahahaha…

Bukannya saya memilih aman dan takut dituduh kafir atau radikal, tapi saya memutuskan untuk mempercayai pemahaman dan jalan pikiran saya sendiri, sehingga saya menolak untuk memberikan cap atau label apapun kepada orang yang tidak seide sama saya. Lha wong saya ndak suka dipaksa, kok saya mau maksa dan senewen kalo orang bersebrangan sama saya. Karena dipaksa itu gak enak sist, kecuali suami yg maksa naekin uang belanja. bwahahaha… (Ayah, paksa aku doonk!!!! 😁😁)

Lalu apa pemikiran saya?? Hmm, mungkin saya termasuk yg egois yah, karena saya tidak memikirkan kemaslahatan umat atau negara dan bangsa ini seperti teman2 yang saya yakin, keduanya mempunyai alasan yang baik, meski berbeda. Kok jadi jauh-jauh saya memikirkan Ahok, FPI, Penistaan agama dan laen-laennya. Saya ini juga masih berjuang broh! Karena daripada saya menyerang Ahok, saya punya banyak alasan untuk menyerang diri saya sendiri. Lha wong, sadar gak sadar, saya juga sering menghina dan melecehkan Al Quran. Kadang saya masih suka ngeluh, masih suka nyakitin orang, atau pun masih belum membawa manfaat buat orang banyak. Istilahnya, masih apalah-apalah diri ini bang. Muterin uang belanja tiap bulan aja mumet kok disuruh mikirin ahok. 😁😁

Wah, menurut kamu kami yang demo ini juga gak pusing sama urusan dunia?? Kami juga pusing sist, tapi kami memilih untuk membela urusan akhirat??

Sabaar sist, broh!! Jangan gampang senewen doonk dan buru-buru menuduh saya kafir. Saya kan cuma berpendapat menurut pemahaman saya. Untuk itu, saya salut-sesalut-salutnya terhadap para relawan yg mengikuti demo pada 4 November kemarin. Hanya saja, boleh toh saya memiliki cara sendiri dalam membela agama. Yah, meski level saya baru ingin ‘menyelamatkan’ diri sendiri.

Saya menghormati yang melakukan aksi, pun saya menghormati yang berfikir bahwa redaksi kalimat ahok tidak menjurus terhadap penistaan agama. Sama kaya kasus Jessica yg ada pro dan kontra. Apa sih di dunia ini yang ga punya pasangan (Eh, maaf buat yang jomblo 🙏) Semua ada dua sisi. Merasa benar boleh, tapi terus-menerus memojokkan orang untuk dipaksa benar menurut versinya juga tak elok.

Saya menghargai kedua kubu. Tapi wes tah, mbok ya saling menghargai satu sama lain. Hablumminallah juga akan pincang tanpa Hablumminannas.

Yang merasa aksi kemarin hanya bentuk provokasi berkenaan dengan pilgub/pilpres, wes kalian juga jangan menyudutkan. Hargai saudara kita yg melakukan aksi dan terus berbenah diri.

Kita ini terlalu fokus melakukan hal besar tanpa mau meluangkan waktu melakukan hal kecil. Padahal sesuatu yang besar, dimulai dari sesuatu yang kecil yg dilakukan secara konstan.

Semoga yang kemarin melakukan aksi, ataupun yang beranggapan itu tidak perlu, tetap menjunjung tinggi Al Quran dalam kehidupan sehari nya. Yang mendamaikan, penuh kasih sayang, saling menghargai, dan membawa manfaat untuk sekitar. Sama seperti tujuan diturunkannya Al Quran.

Sudah ya, jangan gontok-gontokan lagi.

Emak cantik mau berjihad dulu. Level jihad nya baru nyampe melawan hasutan kasur untuk tidur di weekend yg mendung dan melenakan ini. 😄😄

Jangan lupa bahagia ya… 

image

Diposkan pada Tanpa kategori

Antara Saya Dan KOPI: SERU!!!

Setelah lama meninggalkan dunia perblogingan karena sok sibuk dengan status baru sebagai istri dan ibu rumah tangga, saya memutuskan untuk kembali menekuni (catet ya, Menekuni) dunia tulis-menulis melalui media blog. Tau kan bagaimana nasib ibu-ibu baru nan galau macam saya jika tak punya me time? (Eaaa… me time mulu jadi alasan 😛)
Lanjutkan membaca “Antara Saya Dan KOPI: SERU!!!”

Diposkan pada Tanpa kategori

10 Ide Dalam Menulis versi Mrs.Wiguna

image

(Gambar nyomot disini)

Sebagai seorang penulis kemarin sore, menggali ide adalah sebuah hal yang menantang untuk saya. Tapi menurut saya, ada yang lebih menantang dari itu? Apa hayo?

Mengembangkan ide adalah hal yang lebih menantang menurut saya daripada sekedar menemukannya. Ide bisa darimana pun. Tapi mengembangkannya?? Butuh kemampuan yang rada njimet plus konsistensi. Karena tanpa konsistensi, pengembangan kita akan ngalor-ngidul gak ketauan mau kemana.

Lanjutkan membaca “10 Ide Dalam Menulis versi Mrs.Wiguna”

Diposkan pada Curcol, Marriage, Tanpa kategori

Suami saya itu…

Hello!!
Berhubung lagi kangen sama pak suami yang lagi di luar kota, yuk mari kita gosipin bahas sedikit tentang beliau 😁

Saya itu termasuk yang percaya lho bahwa pernikahan sempurna itu tidak ada. Sempurna disini dalam arti gak pernah berantem, tidur berpelukan setiap malem, punya anak monster pintar yang tidak pernah rewel atau tantrum, saling mengerti dan se-iya-sekata sampai maut memisahkan! Huaaah pokoknya yang kaya di pilem-pilem itu lhooo! For me, it’s bullshit!
Lanjutkan membaca “Suami saya itu…”