Diposkan pada Tanpa kategori

Ketika Diam Pun Salah

Saya sedikit ngeri dengan berbagai pemberitaan yang hilir-mudik di beranda saya akhir-akhir ini. Saling hujat, saling tuduh, saling menyebar kebencian.

image

Saya tidak tahu jika efek Ahok akan sebesar ini. Siapa sih Ahok hingga bisa membuat kita terpecah belah seperti ini? Hadeuuuh… saya tidak habis pikir, apalagi jika sebagian orang menuduh yang lain dan bisa mengukur kadar keimanan hanya dari satu perspektif. Oh God… Its so damn cheesy!

Jangankan yang bersuara ya… yang diam pun kena! Kata-nya gak seakidah, katanya gak sekufu, katanya abu-abu, gak jelas memihak siapa! Duileeh boss… nyante napa sih!

Silahkan carmuk dengan Tuhan, jika boleh saya bilang begitu. Tapi saya rasa, Tuhan juga tidak suka jika ia ditinggikan dengan cara merendahkan orang lain. Anda boleh mengejar surga, tapi saya lebih memilih mengejar ridho-Nya.

Lalu siapa anda-anda ini kok bisa jadi nabi-nabi baru yang seolah jadi perpanjangan tangan Tuhan yang bisa memutuskan kadar keimanan seseorang?

Tiap orang punya caranya sendiri, bung! Tidak suka dengan AHOK silahkan! Merasa dinistakan? Silahkan!! Tapi itu tidak memberi anda-anda hak untuk bisa merendahkan dan memberi label kepada orang yang punya pemikiran berbeda! Memang anda siapa? Asisten Tuhan?

Anda bilang merasa tersakiti karena banyak yang seagama tapi memilih diam? Lalu anda balas menyakiti yang diam dengan menuduh ini itu karena tidak bertindak seperti yang anda lakukan.

Indonesia ini besar. Ada mayoritas dan minoritas. Mari kita jaga semuanya. Lakukan semua pada porsinya. Merasa disakiti oleh satu orang, tidak menjadikan anda punya kekuasaan untuk menghujat yang lainnya. Sudahlah bung, semua yang berkeyakinan, pasti meyakini yang dipegangnya adalah benar. Sama juga dengan anda. Memaksakan kehendak dan berkoar-koar tentang betapa hebatnya keyakinan dan perilaku anda, tidak membuat orang lantas kagum dan percaya.

Kita ini Bineka Tunggal Ika. Rasakan Agamamu dan kehadiran Tuhanmu dalah setiap sendi kehidupanmu yang melahirkan sikap santun dan welas asih. Yang sabar dan penyayang. Yang mendamaikan.

Kenapa saya begitu kawatir seperti ini? Karena sekarang, orang tak malu lagi menyebar kebencian lewat sosial media. Tak malu, karena Tuhan jadi alasannya. Tak malu, karena merasa Tuhan jadi pembelanya. Menurutmu, Tuhan akan senang?
Akan bangga? Wah, hebat sekali umatku! Calon penghuni surga! Membelaku sampai titik darah penghabisan. Yah, begitulah… Begitu lah cara berfikir teroris. Menjadikan Tuhan alasan untuk berbuat kedzoliman. (Ups, selepas ini saya akan dituntut karena menistakan Tuhan).

Kita sedih dan mengutuk orang yang menindas saudara kita yang minoritas di berbagai negara, tapi saat kita mayoritas, kita melakukan hal yang sama. Oh lucunya dunia…

Sudahlah bung, mari kita sama-sama berpikir lebih jernih. Apapun yang dilakukan Ahok, tidak boleh membuat kita terpecah belah. Boleh sakit-hati karena merasa dilecehkan, boleh demo. Tapi tolong jangan lagi menebar banyak kebencian. Efeknya akan jauh lebih besar dari pada kasus awalnya. Jauh-jauh lebih besar.

Ingat bung, sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat buat manusia lain. Masalah keimanannya? Sudahlah, jangan suka ikut campur urusan dapur orang. Fokus saja jadi manusia berguna.

Sekali lagi, mari kita berhati-hati dalam bersosial media. Banyak berita dengan mudah kita bagikan! Pilihlah! Pilahlah! Mana yang menurutmu Tuhanmu suka, mana yang menurutmu Tuhanmu tidak suka. Atau jika kamu bimbang dan ragu, pikirkan perasaan yang membacanya. Dan bayangkan juga dampaknya.

Sesungguhnya dari situlah kebijaksanaan tiba.

Wallahu’alam

image

Iklan

Penulis:

An ordinary wife from an awesome husband and A mother from two gorgeous kids. An English teacher. A learner. A coffee lover.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s