Diposkan pada Curcol, Motherhood, Parenting

Mempunyai anak kurus? Tips Menghadapi Si Tukang Nyinyir ala Mrs. Wiguna

image

(Gambar nyomot disini)

“Tata berat badannya berapa mbak? Kok kecil ya anaknya?”

“Gak doyan makan ya anaknya? Kok kurus sekali?”

“Kayaknya Tata cacingan deh! Gak gemuk kayak si B. Susunya gak cocok kali”

Atau yang paling ngehits,

“Tata gak pernah dikasih makan yaa? Kok beratnya kayaknya gak naek-naek?

Iya kali gak dikasih makan -_-

*****

Hayo bukibuk, ada yang pernah dapat komentar diatas kayak saya??

Rasanya horor sekali deh kalo ketemu orang dan mereka melontarkan komentar yang tidak berperikeibuan diatas!

Masalah berat badan anak pastilah menjadi concern ibu-ibu muda. Apalagi yang anaknya memiliki berat badan ‘tidak bombastis’ seperti harapan orang.

Biasaaa, masyarakat endonesa masih berkiblat pada semboyan:

Anak Gemuk itu Lucu dan Menggemaskan

Lalu apa kabar dengan anak yang berat badannya pas-pasan??

Saya itu heran dengan stigma seperti itu. Bukan, bukan karena anak saya waktu itu tidak bisa dikategorikan gemuk. Tapi bagaimana bisa, menganggap anak yang kelebihan berat badan itu lucu? Sedangkan kita aja kadang repot-repot ikut diet dari corbuzier sampe diet tanpa garam agar terlihat singset.

Sejak hamil dan tergila-gila dengan ilmu perASIan, saya sudah tahu bahwa anak ASI mayoritas tidak gemuk dan semok seperti anak sufor. Apalagi saat si dedek bayi sudah masuk ke tahap merangkak dan berjalan. Ketika kalorinya terpakai untuk berbagai macam aktivitas, maka terkadang berat badannya pun akan menyusut atau tidak naik secara signifikan.

Meski sudah banyak belajar dan mengantongi ilmu yang relatif cukup di kancah peremak-emakan, toh saya masih sulit menutup telinga ketika ada yang berkomentar seperti itu.

Sepanjang apapun kita menjabarkan, mereka cenderung tidak mau tau. Nah, kalau gitu kan sudah jelas ya apa tujuannya berkomentar. They’re not really care, they just want to be nyinyir.

Hari ini saya membaca sebuah headline disebuah surat kabar tentang anak umur 10 tahun dan memiliki berat badan 140 kg (Dimana normalnya 30 kg). Apa ada yang menganggapnya superduper lucu menggemaskan maksimal? Tentu tidak ya buk! Sedihnya, karena berat badannya ini, si adik ini jadi tidak bisa sekolah. Jangankan buat sekolah, buat berdiri dan berjalan pun dia kesusahan 😭 Padahal dia selalu dapat peringkat di sekolahnya lho…

Sudah saat nya stigma tersebut dihapus. Bukannya apa, kasihan anaknya buk. Apalagi kalo anak dijadikan ajang persaingan “siapa yang beratnya paling banyak”. Para ibu berbondong-bondong kasih makan anaknya sebelum 6 bulan, bahkan cari tau sana-sini untuk menemukan susu ajaib yang bisa menggeser angka timbangan anak ke kanan -_-

Entahlah, itu karena ibu nya sayang dan perhatian sama anaknya atau karena gak kuat mental di nyinyirin sebagai ibu yang gak bisa ngurus anak hanya karena anaknya ‘terlihat’ kurus! #judgingalert

Nah, untuk ibu-ibu yang bernasib sama seperti saya dulu, yang galau dengan berat badan anaknya, saya punya tips ala-ala nih!

1. Jadikan KMS sebagai acuan
Sebelum baper dengar perkataan orang, saya sarankan para emak rajin bawa anaknya ke posyandu. Atau kalau anti dengan vaksin dan males kesana, beli timbangan sendiri. Dengan begitu, kita bisa memantau sendiri perkembangan anak kita. Catet di KMS nya dan liat bagaimana grafiknya setiap bulan. Apa masih di jalur yang aman, atau sudah di wilayah ‘warning’.

Dengan bekal KMS itu mak, kita bisa lebih pede dengan perkembangan anak kita. Kita pun tau apa yang mesti kita lakukan. Meski anak kita terlihat kurus, jika masih berada di zona warna hijau, kita tidak perlu terlalu paranoid.

2. Perbanyak ilmu tentang perkembangan anak.
Mayoritas ‘judging’ akibat ketidaktahuan. Ada baiknya kita sebagai orang tua tidak hanya membekali diri kita dengan ilmu ‘opo jare’ atau apa kata orang… Kata orang tua, anak bayi harus begini. Kata mbah pijet harus begitu. Belum kata nenek, pak dhe, budhe dan tetangga-tetanggi. Pusing deh pale kite kalo dengerin semuanya!

Jadi orang tua memang tidak mudah (siapa coba yang bilang muda?). Untuk itu mengetahui dunia perparentingan hukumnya wajib di era sekarang. Tanpa mengurangi hormat kepada para sesepuh, kita sebagai orang tua harus punya pendapat dan pendirian sendiri. Tentu bukan yang asal-asalan dan sak karepe dewe ya buk. Tapi pendapat dan pendirian yang kita dapat dari hasil pemahaman kita dan berdasarkan ilmu yang kita sesuaikan dengan kondisi masing-masing.

3. Jangan BAPER
Susyeeeh ya buk buat gak baper kalo terus-terusan dipojokin orang. Apalagi yang merasa sok tau dan sok iye, padahal doi gak tau gimana jungkir baliknya kita menyiapkan menu food combining yang kadang ujung-ujungnya dilepeh sama anak kita (sakitnyaa tuh disini)

Kuatkan mental buk! Apapun kata sekeliling, anak kita tetaplah anak kita! Kita lah yang mengetahui apa kebutuhan nya.

Saya dulu keburu baper tiap orang komentar yang menurut saya nylekit. Jadi saya cuma diem dan ngambek sama orang tersebut. Hahahaha

Kalo ibu punya mental tangguh, boleh juga lho sesekali mengedukasi mereka. Bukan menggurui yaa…

Kita bisa menyampaikan meski anak kita terlihat kurus, tapi anak kita aktif dan ceria. Itulah concer kita, bukan masalah gemuk atau kurusnya.

4. Temukan Solusi
Gak ada salahnya kok buk, jika kita juga sedikit intropeksi. Kenapa sih kok anak kita seakan pertumbuhannya kejar tayang. Berat badannya pun meski tergolong normal menurut grafik WHO tapi naiknya angot-angotan.

Apa memang faktor genetik?
Apa si kecil lagi ga enak badan?
Atau mungkin lagi tumbuh gigi sehingga males makan?
Atau malah bosan dengan lauk yang kita sajikan?

Mendengar kenyinyiran orang memang gak enak ya, tapi alangkah bijaknya kita juga nyambi intropeksi. Jadi ketika kita sudah tau apa penyebabnya, kita tak lagi begitu sakit hati ketika ada yang sok tahu dengan kondisi buah hati kita.

Pada dasarnya semua yang berlebihan tidaklah bagus. Berlebihan gemuk, maupun berlebihan kurus. Yang paling penting buat anak kita adalah sehat dan bahagia.

Setuju semuaaa?

Iklan

Penulis:

An ordinary wife from an awesome husband and A mother from two gorgeous kids. An English teacher. A learner. A coffee lover.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s